Sunday, November 5, 2017

REVIEW 2 JURNAL KOMUNIKASI BISNIS

JURNAL 1

JUDUL : PENGARUH STRATEGI BISNIS DAN STRATEGI TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP KINERJA LEMBAGA PENDIDIKAN: STUDI KASUS PERGURUAN ISLAM AL-IZHAR PONDOK LABU

PENULIS : Oo Harsono



PENDAHULUAN

   Perkembangan sistem informasi dan teknologi informasi (selanjutnya ditulis SI/TI) telah memacu suatu cara baru dalam kehidupan, yaitu kehidupan yang dipengaruhi kebutuhan secara elektronik, seperti ecommerce, e-goverment, e-ducation, e-library, e-journal, e-medicine, e-laboratory, dan lain-lain.
    Keterlibatan SI/TI dalam proses bisnis suatu organisasi telah menjadi salah satu unsur penting yang
dapat mendorong keunggulan bersaing. Hal tersebut diyakini bahwa apabila sebuah organisasi dapat menguasai SI/TI maka organisasi tersebut akan memenangkan persaingan.


METODE

    Pengambilan data untuk penelitian ini dilakukan sekaligus dalam satu tahap. Namun, data yang diperoleh dari berbagai subyek penelitian dapat mencakup dalam waktu periode tertentu.
Teknik analisis yang dikembangkan dalam penelitian ini meliputi : 
          1. Analisis Statistik Deskriptif
          2. Analisis Statistik Inferensia


HASIL

Penelitian ini menghasilkan :
· Strategi bisnis mempengaruhi perumusan strategi SI/TI secara positif dan signifikan. Dengan kata lain, perumusan strategi SI/TI dipengaruhi strategi bisnis organisasi.
· Strategi bisnis dan strategi SI/TI secara bersama-sama mempengaruhi kinerja lembaga pendidikan secara positif dan signifikan.
· Secara sendiri-sendiri, strategi SI/TI memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kinerja lembaga pendidikan, dibandingkan pengaruh strategi bisnis. Hal itu disebabkan karena implementasi strategi SI/TI dapat dirasakan secara nyata di lapangan.




JURNAL 2

JUDUL : ANALISIS PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM MENUNJANG TERWUJUDNYA MAKASSAR SEBAGAI “SMART CITY”

PENULIS : Amri



PENDAHULUAN

    Seiring dengan kemajuan zaman,kemajuan teknologi pun tak urung Juga menjadi suatu terobosan baru yang digunakan oleh kota makassar untuk memberikan layanan yang semaksimal mungkin bagi penduduknya. Sehingga muncul konsep cyber City dan Smart City. Konsep-konsep tersebut berkembang dengan mendasarkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi dan komunikasi dalam mengelola kota.
    Smart city dapat didefinisikan menjadi 6 dimensi, yaitu Smart Goverment (Pemerintahan Pintar), Smart Economy (Ekonomi Pintar), Smart Live (Hidup pintar), Smart Living (Lingkungan pintar),Smart People (Orang/Masyarakat Pintar), Smart Mobility (Mobilitas pintar).


METODE

   Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Metode ini digunakan karena peneliti ingin mengetahui tentang analisis pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi pemerintah Kota Makassar dalam mewujudkan smart city.


HASIL

   Hasil Penelitian menunjukkan Teknologi informasi dan komunikasi saat ini telah menjadi salah satu infrastruktur utama dalam kehidupan masyarakat modern layaknya listrik, air, dan jalan. Konsep smart city menempatkan kota sebagai sebuah ekosistem yang terdiri dari banyak subsistem untuk mengelola transportasi, energi, perniagaan, pelayanan kesehatan, pendidikan, komunikasi dan sumber daya air. Subsistem-subsistem ini digabungkan untuk membentuk sebuah kesatuan yang terinterkoneksi dan saling mendukung.


KESIMPULAN


    Mengenai perbandingan kedua jurnal diatas, dapat disimpulkan bahwa dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat ini, bisa dikatakan teknologi informasi telah memasuki ke segala bidang salah satunya dibidang bisnis maupun pendidikan. Kemajuan teknologi dan informasi membantu kita dalam mengurangi biaya, mempermudah proses komunikasi dan akses informasi dalam penyebarannya mudah dicari dan didapat.


LINK JURNAL

http://pascasarjana.budiluhur.ac.id/wp-content/uploads/Harsono_TM_Vol2No1.pdf
http://journal.unhas.ac.id/index.php/kareba/article/view/1916

Wednesday, November 1, 2017

PENGERTIAN LAPORAN BISNIS

KOMUNIKASI BISNIS

Kelompok 1    :
Ferry                                                    (14214186)
Emalia Kartika Dewi                           (13214548)
Nurul Fatwa Sari Utami                      (18214266)
Sisi Maulidi Audisti                            (1A214310)
Siti Khodijah Hutabarat                      (1A214360)
Yusniar                                                (1C214601)

Kelas : 4EA16

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA

A.    PENGERTIAN LAPORAN BISNIS
     Laporan bisnis adalah suatu laporan yang bersifat netral, memiliki tujuan yang jelas serta menyajikan fakta kepada seorang atau lebih dalam rangka mencapai tujuan bisnis tertentu.
 Laporan bisnis ialah setiap dokumen factual yang menyatakan tujuan perusahaan merupakan sarana manajerial untuk menginformasikan atau memberikan kontribusi pada pengambilan keputusan harus bersifat akuran, lengkap dan obyektif.
 Laporan bisnis juga dapat idartikan sebagai suatu laporan yang memiliki sifat netral, tidak memihak, memiliki tujuan yang jelas dan rencana penyajian fakta kepada seseorang atau untuk kepentingan bisnis tertentu.
 Lapoan bisnis juga merupakan pesan-pesan yang objektif, tersusun secara teratur yang digunakan untuk menyampaikan informasi dari suatu bagian organisasional atau dari satu institusi atau lembaga ke lembaga lain untuk membantu pengambilan keputusan atau pemecahan masalah.
 Laporan fakta meliputi kejadia-kejadian, kondisi, mutu perkembangan hasil, produk, masalah,atau saran pemecahan. Laporan dapat membantu penerima memahami situasi bisnis yang kompleks, menyelesaikan tugas-tugas teknik, atau merencanakan prosedur-prosedur, pemecahan masalah dan membuat kenijakan tentang perencanaan strategis.
  Suatu laporan dapat berbentuk tertulis ataupun lisan ataupun keduanya (lisan dan tertulis). Laporan tertulis biasanya mendahului penyajian secara lisan yang didasarkan pada dokumen tertulis. Dalam bisnis, secara umum penulisan lapran digunakan untuk memenuhi berbagai keperluan antara lain:
a.  Untuk memantau dan mengendalikan operasi perusahaan, misanya laporan operasi, laporan kegiatan karyawan.
b.   Untuk membantu mengimplementasikan kebijakan dan proses yang telah ditetapkan perusahaan, misalnya kebijakan penetapan karyawan.
c.   Untuk memenuhi persyaratan hokum dan peraturan yang berlaku bagi perusahaan, misalnya laporan pajak, laporan analisis dampak lingkunga, laporan ketenagakerjaan (perburuhan).
d.     Untuk mendokumentasikan kinerja, baik untuk kebutuhan internal maupun eksternal;  misalnya laporan kinerja, laporan perkembangan kegiatan.
e.    Untuk menganalisis informasi dan memberikan masukan bagi pengambilan keputusa atas isu tertentu; misalnya laporan riset laporan justifikasi.
f.       Untuk memperoleh sumber pendanaan dan pembukuan bisnis baru; misalnya proposal penjualan, proposal pengembangan produk baru.

Selanjutnya laporan bisnis dapat digolongkan ke dalam jenis sebagai berikut.

1.      LAPORAN MENURUT FUNGSINYA
               Jenis laporan menurut fungsinya terdiri laporan informasional dan laporan analitis. Laporan informasional adalah laporan yang bersifat memberi informasi, menyajikan fakta tanpa melakukan analisis, tanpa kesimpulan dan tanpa memberi rekomendasi. Sedangkan, laporan analitis adalah laporan yang menyajikan fakta , menganalisis dan menginterpertasikannya kemudian menyimpulkan dan memberi rekomendasi. Beberapa contoh dari jenis ini adalah laporan kemajuan pekerjaan , laporan rekomendasi, proposal dan sebagainya.
       2.      LAPORAN MENURUT SUBJEKNYA
Laporan menurut subjeknya adalah laporan yang didasarkan menurut departemen atau unit tempat laporan itu diperoleh. Contoh-conthnya adalah laporan akuntansi, laporan personalia, laporan produk dan sebagainya.
       3.      LAPORAN MENURUT FORMALITASNYA
Laporan jenis ini dapat dibedakan atas laporan formal atau laporan laporan panjang (pada umumnya lebih dari 10 halaman) dan laporan nonformal atau laporan singkat.
       4.      LAPORAN MENURUT KEASLIANNYA
Laporan yang terdiri dari laporan otoritas, laporan sukarela, laporan swasta, dan laporan public. Laporan otoritas yang dibuat atas dasar permintaan atau kuasa dari orang lain; laporan sukarela disusunatas inisiaif dari pembuat laporan itu sendiri; laporan swasta adalah laporan yang dibuat oleh organisasi perusahaan swasta; dan laporan public disusun oleh lembaga yang dibuat oleh organisasi pemerintah atau lembaga yang dibiyai oleh Negara.
      5.      LAPORAN MENURUT FREKUENSINYA
              Laporan menerut frekuensinya terdiri dari laporan berkala yaitu laporan yang disusun secara harian, mingguan, bulanan,semesteran dan tahunan. Contoh, laporan penjualan harian, sedangkan laporan khusus merupaka laporan atas suatu kejadian yang unik (khusus) seperti munculnya krisis dalam suatu perusahaan.
      6.      LAPORAN MENURUT JENISNYA
            Laporan jenis terdiri dari laporan memorandum, laporan surat, laporan dalam bentuk cetakan, dan laporan panjang (laporan formal).
      7.      LAPORAN MENURUT KEGIATAN PROJEK
         Laporan macam ini terdiri atas laporan pendahuluan, laporan perkembangan, dan laporan akhir.
      8.      LAPORAN MENURUT PELAKSANAAN PERTEMUAN
 Yang termasuk ke dalam laporan jenis ini adalah agenda resolusi, notulen, dan laporan pertemuan. Agenda adalah suau dokumen yang ditulis sebelum suatu pertemuan berlangsung, dan biasanya terdiri dari jadwal pelaksanaan dan topic yang akan dibahas dalam pertemuan sehingga akan membantu peserta dalam mempersiapkan peserta. Resolusi merupakan laporan singkat yang secara formal berisi pengumuman hasil consensus dalam suatu pertemuan. Notulen adalah laporan resmi dalam suatu pertemuan yang telah berlangsung yang mencakup smua hal yang terjadi dalam suatu pertemuan. Laporan pertemuan merupakan laporan resmi yang mencakup bahasan yang lebih luas dan berisi hasil pertemuan atau konfresi penting.

B.     BAGIAN POKOK DALAM LAPORAN BISNIS
1.      Pendahuluan
      Dalam bagian pendahuluan ada 11 (sebelas) hal yang perlu dipertimbangkan, yakni:
            a.     Pemberi Kuasa, adalah individu/organisasi yang meminta laporan
b.  Tata-letak, menginformasikan kepada pembaca tentang apa saja yang akan dibahas dalam laporan bisnis
c.  Masalah, biasanya diformulasikan di awal pendahuluan sebelum maksud atau tujuan laporan bisnis dinyatakan
d.   Maksud, merupakan poin penting dalam laporan bisnis
e.  Ruang Lingkup, berhubungan dengan luas cakupan atau batas suatu pokok bahasan dalam sebuah laporan bisnis
f.     Metodologi, mengacu pada metode pengumpulan informasi
g.    Sumber-sumber, mencakup berbagai sumber yang kita gunakan dalam penyusunan
     laporan bisnis, baik sumber tertulis maupun sumber lisan
h.  Latar Belakang, jika pembaca dianggap perlu mengetahui informasi yang ada dalam laporan bisnis itu maka latar belakang harus disampaikan
i.   Definisi Istilah, jika kita menggunakan istilah yang memiliki beberapa penafsiran maka
    kita harus menjelaskan kepada pembaca definisi yang kita maksudkan
j.   Keterbatasan, adalah keterbatasan dalam hal dana, waktu, ataupun data yang tersedia

       Untuk laporan singkat, beberapa unsur tersebut dapat digabungkan menjadi satu atau dua paragraf dengan ataupun tanpa judul “Pendahuluan”. Bahkan dalam laporan berkala, judul pendahuluan dapat dihilangkan bila isi setiap periode sama dan pembaca telah mengetahuinya.
2.      Isi Laporan
Bagian terpanjang dari suatu laporan bisnis adalah isi laporan. Dalam bagian ini, kita membahas dan mengembangkan hal-hal yang penting secara rinci. Di samping itu, bagian ini dapat membantu kita mencapai maksud penulisan laporan bisnis. Penulisan laporan bisnis yang baik, harus mencakup temuan fakta yang penting dan relevan.
3.      Penutup
Bagian penutup berfungsi untuk merangkum laporan secara menyeluruh, dan untuk laporan analitis juga mengambil kesimpulan dan memberikan rekomendasi. Oleh karena itu, dalam Laporan Informasional bagian penutup ini dinamakan Rangkuman, sedangkan pada Laporan Analitis disebut Kesimpulan dan Rekomendasi.
Hal-hal yang dipertimbangkan dalam bagian penutup adalah sebagai berikut:
1.         Rangkuman, berisi ringkasan pembahasan secara menyeluruh. Kadangkala hanya berisi poin-poin yang penting, kekuatan dan kelemahan, atau manfaat dan kerugian
2.    Kesimpulan, berisi evaluasi secara ringkas fakta-fakta yang dibahas, tanpa memasukkan pendapat pribadi kita sebagai penulis
3.    Rekomendasi, menyarankan suatu program tindakan yang didasarkan pada kesimpulan yang telah dibuat
4.    Rencana Tindakan, merupakan pernyataan terakhir yang mencakup waktu pelaksanaan program, anggaran yang diperlukan, dan orang-orang yang bertanggung jawab terhadap program/projek yang akan dilaksanakan.

C.    PENGORGANISASIAN ISI DALAM LAPORAN BISNIS

                   Ada 2 (dua) cara yang dapat dipilih untuk digunakan dalam penyusunan isi laporan bisnis, yakni cara dedukasi (cara langsung) dan cara induksi (cara tak langsung).

            Cara pertama:
Cara deduksi atau cara langsung berarti menyampaikan ide pokok dan rekomendasi terlebih dahulu, seteah itu baru dijelaskan ahl-hal yang rinci. Secara umum, kita dapat menggunakan cara deduksi atau cara langsung, jika pembaca kita memiliki cirri sebagai berikut:
·      Eksekutif  yang sibuk,
·      Lebih suka untuk menentukan sesuatu dengan segera,
·      Ingin mengetahui ‘berita baik’ atau informasi netral
·    Ingin menganalisis data lebih baik, dan hal ini akan menjadi lebih mudah jika,
·      Kesimpulan dan rekomendasi dicantumkan pada awal laporan
·      Ingin mengetahui pendangan penulis laporan dengan segera
·      Lebih menyukai laporan yang disusun dengan cara deduksi
  
Cara kedua:
Cara induksi atau cara tak langsung, berarti kita menjelaskan fakta-fakta yang ada terlebih dahulu, baru kemudian kita memberikan ide pokok, kesimpulan dan rekomendasi. Pada prinsipnya, kita menggunakan cara induksi jika pembaca kita mempunyai karakteristik sebagai berikut:
·    Ingin mengetahui penjelasan secara rinci terlebih dahulu untuk dapat memahami kesimpulan dan rekomendasinya,
·      Ingin mengetahui kesimpulan yang kurang menyenangkan (‘berita buruk’),
·      Merasa kesimpulannya tidak bias dan dapat menerimanya
·      Perlu membaca keseluruhan laporan,bukan hanya bagian akhirnya saja
·      Lebih menyukai laporan yang disusun dengan cara induksi

TEMA LAPORAN BISNIS
            Tema laporan bisnis kelompok kami adalah usaha pembuatan pengharum ruangan alami yang tidak mengandung bahan kimia. Pengharum ruangan alami ini lebih dominan terhadap aroma terapi yang menyejukkan ruangan. Adapun laporan bisnisnya masih dalam tahap pembuatan.




Referensi :

Monday, October 2, 2017

PERANAN KOMUNIKASI DALAM DUNIA BISNIS

PERANAN DALAM DUNIA BISNIS
  • Komunikasi Dengan Pasar
   Dengan timbulnya situasi Economic of relatif plenty, dewasa ini setiap pengusaha harus berusaha untuk dapat menutup jurang yang terbentang antara produsen dengan masyarakat konsumen selaku calon pembeli atau pemakai barang atau jasa yang dihasilkannya. Menjadi tugas dan tanggung jawabnya selaku seorang pengusaha untuk selalu dapat mempengaruhi besarnya permintaan akan barang hasil produksi perusahaannya, selalu berusaha untuk mencari pembeli dan pemakai barang yang dihasilkannya. Sebagai pengusaha, ia harus memberitakan penyempurnaaan-penyempurnaan produksi yang telah dicapainya, dimana barang yang dihasilkannya dapat diperoleh masyarakat konsumen dan lain senbagainya. Atau dengan perkataan lain, setiap pengusaha harus selalu memelihara konsumen dengan pasar.

   Penyelenggara komunikasi dengan pasar, merupakan suatu syarat mutlak bagi setiap produsen yang menghasilkan produk secara besar-besaran yang ditujukan kepada kepada para konsumen yang tidak dikenalnya. Penyelenggaraan komunikasi dengan pasar juga berarti suatu syarat mutlak bagi setiap pengusaha yang ingin menjamin kelangsungan hidup perusahaannya dan terus maju berkembang.

   Dalam lingkungan bisnis, ada aneka sarana komunikasi perdagangan yang dapat dipergunakan para pengusaha untuk berkomunikasi dengan masyarakat konsumen. Sarana-sarana komunikasi perdagangan yang tersedia antara lain adalah dalam wujud pengiriman surat, pengiriman kawat, percakapan telepon, kunjungan pribadi, dan lain-lain.

 Jenis-jenis sarana komunikasi perdagangan yang disebutkan tadi hanya sesuai bilamana dipergunakan dalam daerah pemasaran barang dan jasa yang ruang lingkupnya terbatas.

  • Konsep Dasar dan Peranan
   Pentingnya komunikasi bagi manusia tidaklah dapat dipungkiri begitu juga halnya bagi suatu organisasi. Dengan adanya komunikasi yang baik suatu organisasi dapat berjalan dengan lancar dan berhasil dan begitu pula sebaliknya, kurangnya atau tidak adanya komunikasi organisasi dapat macet dan berantakan. Misalnya bila dalan suatu sekolah kepala sekolah tidak memberi informasi kepada guru-guru mengenai kapan sekolah dimulai sesudah libur semester dan apa bidang studi yang harus diajarkan oleh masing-masing guru, maka besar kemungkinannya guru tidak dating mengajar. Skibatnya, murid-murid tidak belajar. Hal ini menjadikan sekolah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Dari contoh itu kelihatan, bahwa dengan kelupaan memberi informasi saja sudah memberikan efek yang lebih besar bagi sekolah. Karena pentingnya komunikasi dalam organisasi maka perlu menjadi perhatian pengelola agar dapat membantu dalam pelaksanaan tugasnya Komunikasi yang efektif adalah penting bagi semua organisasi. Oleh karena itu, para pemimpin organisasi dan para komunikator dalam organisasi perlu memahami dan menyempurnakan kemampuan komunikasi mereka (Kohler 1981).


TUJUAN DARI KOMUNIKASI DALAM BISNIS

  • Tujuan Komunikasi 
  1. Menentapkan dan menyebarkan maksud dari suatu kegiatan.
  2. Mengorganisasikan sumber-sumber daya manusia dan sumber daya lainnya seperti efektif dan efisien.
  3. Memimpin, mengarahkan, memotivasi dan menciptakan suatu iklim kerja di mana setiap orang mau memberikan kontribusi.
  4. Untuk mempengaruhi sikap dan perilaku orang-orang secara individu maupun kelompok-kelompok di dalam suatu organisasi
  5. Mengembangkan rencana-rencana untuk mencapai tujuan.
  6. Memilih, mengembangkan, menilai anggota di dalam komunikasi tersebut.
  • Tujuan Komunikasi Data :
  1. Pengiriman data dalam jumlah besar dan efisien.
  2. Mempermudah pengolahan dan pengaturan data.
  3. Penggunaan sistem komputer dan alat pendukung secara bersamaan.
  4. Menggunakan sistem komputer secara terpusat/tersebar.
  5. Mempercepat penyebaran informasi.
  6. Mendapatkan data secara langsung dari sumbernya.
  • Operasi Komunikasi Data :
  1. Pertukaran informasi/information exchange.
  2. Time sharing.
  3. Pengumpulan data/data collection.
  4. Program to program communications.
  5. Remote computing.
  6. Menyimpan dan mengambil data/data storage and access.

UMPAN BALIK DAN BENTUKNYA


   Penjelasan keberhasilan komunikasi dalam kerangka tujuan menunjukkan betapa pentingnya elemen komunikator dalam menentukan keberhasilan komunikasi. Karena dalam melakukan komunikasi, komunikator harus lebih dulu mengetahui keadaan komunikan. Keadaan komunikan yang sedang sedih, gembira, dan sebagainya sangat menentukan keberhasilan komunikasi. Disinilah peran komunikator yang harus dapat menilai apakah komunikan dalam keadaan siap atau tidak untuk berkomunikasi. Bila dianalogikan dengan seorang siswa-naik atau tidak naik kelas-sebenarnya, bergantung pada kemauan siswa itu sendiri. Apabila komunikator maksimal dalam mengusahakan suatu komunikasi yang baik dengan mempertimbangkan segenap aspek komunikasi, termasuk media apa yang akan dipakai, baik itu media primer (dengan cara tatap muka), maupun sekunder (radio, televisi, surat, dan sebagainya), maka komunikasinya akan berhasil.

   Pemilihan media yang tepat dalam melakukan komunikasi turut memberikan peranan dalam menentukan keberhasilan komunikasi. Media primer yang paling banyak digunakan adalah bahasa. Kesalingmengertian dalam bahasa tidak hanya sebatas kerangka terjemahan saja, tetapi juga pada kerangka pemaknaan. Lebih lanjut, kesalingmengertian juga didasari pada faktor frame of reference. Sedangkan dalam menggunakan media sekunder (surat kabar, radio, televisi, dan sebagainya), keefektifan tercapai dalam menjangkau komunikan dalam jumlah yang banyak (massa). Namun, kelemahan aspek ini adalah hanya sebatas pada pesan yang bersifat informatif saja. Sehingga umpan balik yang ditimbulkan tidak dapat diketahui secara langsung.

    Dengan mengetahui umpan balik yang dikirimkan oleh komunikan, maka sebagai komunikator, kita akan dapat langsung mengetahui apakah tujuan dari pesan kita tersampaikan atau tidak. Apakah umpan balik itu berupa respon negatif ataupun respon positif. Contoh kecil ketika kita berceramah atau berpidato di depan khalayak umum. Maka kita akan dapat melihat reaksi apa saja yang dilakukan oleh pendengar di depan kita. Mungkin ada yang tekun memperhatikan, ada yang mengobrol dengan teman di sampingnya, ada yang menguap karena bosan, atau melakukan interupsi atas apa yang kita sampaikan. Semua perilaku atau reaksi yang dilakukan oleh penonton di depan kita merupakan umpan balik yang langsung diberikan kepada kita sebagai komunikator.


KESALAHPAHAMAN DALAM BERKOMUNIKASI


   Misunderstanding (kesalahpahaman) merupakan salah satu kendala komunikasi efektif dan sangat berpeluang menciptakan konflik. Suatu kondisi salah paham biasa dimunculkan ketika suatu informsi yang diterima oleh seseorang memiliki makna atau esensi yang berbeda dari yang dimaksudkan oleh si pemberi atau penyampai informasi.

   Ada beberapa cara untuk menghindari kesalahpahaman. Yang paling penting adalah meningkatkan kemampuan berkomunikasi. Kemampuan ini bisa kita tingkatkan dengan, misalnya, banyak membaca koran atau tulisan lain yang memakai tata bahasa efektif dan sistematis. Dengan rutin membaca, kosakata kita akan semakin kaya dan mempermudah untuk menjalin komunikasi. Selain itu, jangan lupa tanyakan kepada lawan bicara hal-hal yang kita belum jelas maksudnya. Cara ini membantu untuk menghindari salah paham akibat salah persepsi.
Cara yang lain, tingkatkan sensitivitas kita pada lawan bicara dan kurangi sensitivitas dari lawan bicara. Dengan kata lain, tingkatkan kepekaan kita untuk merasakan perasaan lawan bicara, agar kita lebih berhati-hati dalam memilih dan menyampaikan kata. Sebaliknya, kurangi kepekaan kita dari kata-kata yang diucapkan oleh lawan bicara. Jangan sampai kita tersinggung oleh hal-hal sepele, hanya karena kita terlalu sensitif dalam menanggapi orang lain.

MEMPERBAIKI KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI


   Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi. Komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. Misalnya: memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan surat-surat resmi. Adapun komunikasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya secara individual.

DAFTAR PUSTAKA

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/komunikasi_bisnis/bab1-latar_belakang_dan_peranan_komunikasi_dalam_dunia_bisnis.pdf
https://defickry.com/2008/02/27/umpan-balik-unsur-penentu-keberhasilan-komunikasi/
https://adellweise.wordpress.com/2012/11/07/salah-paham-dalam-komunikasi/

Sunday, April 2, 2017

Etika Bisnis

Sebuah dasar bagi etika pemasaran: hubungan yang baik bagaimana bila etika sudut pandang yang benar
Patrick E. Murphy

          Makalah ini berfokus pada dasar etika hubungan pemasaran dengan mengambil suatu sudut pandang etika yang benar. Kami membayangkan hubungan pemasaran memiliki tiga tahap yaitu, tahap Pembentukan, tahap pemeliharaan dan tahap penguatan. Setiap tahap dikaitkan dengan lebajikan etis dominan dan seluruh proses tertanam di beberapa kebajikan menyeluruh lainnya. Ini adalah pendapat kami bahwa hubungan pemasaran secara inheren suatu kegiatan etis, karena hubungan abadi tidak dapat dibangun atau dipertahankan tanpa dasar moral yang kuat.
          Tulisan ini dibagi menjadi empat bagian. Bagian pertama, kita meneliti akar sejarah hubungan pemasaran. Bagian kedua, pandangan kedua ciri  Amerika dan Eropa pada hubungan pemasaran. Bagian ketiga, kami menyajikan sebuah model pemasaran hubungan etis dan mendiskusikan komponen-komponennya. Dan bagian terakhir, kita meletakkan dasar bagi mereka yang mungkin mau mencoba untuk mengukur kehadiran karakteristik ini dalam bisnis dan konsumen kemitraan yang telah di klaim sukses. Akhirnya, kita menarik implikasi bagi manajer pemasaran dan peneliti.

Akar sejarah hubungan pemasaran
          Hubungan pemasaran biasanya menghasilkan hubungan ekonomi, teknis dan sosial yang kuat dianatara pihak-pihak pemangku kepentingan sehingga mengurangi biaya transaksi dan meningkatkan efisiensi pertukaran. Termasuk dalam hubungan pmenasaran tidak hanya pertukaran antara pembeli/penjual, tetapi juga kemitraan bisnis, aliansi strategis, dan jaringan pemasaran koperasi.
Pandangan orang Amerika pada hubungan pemasaran
          Hubungan pemasaran sebagai istilah pertama kali muncul dalam literatur pemasaran di AS pada tahun 1983 (Berry, 1995). Jasa pemasaran disedikan konteks untuk memperkenalkan hubungan pemasaran. Gagasan utama telah dibahas oleh banyak pemasaran penulis menggunakan descriptor yang berbeda untuk waktu yang lama. Namun, sebagai subjek yang dapat diidentifikasi dalam domain keseluruhan pemasaran di AS, hubungan pemasaran adalah fenomena yang relatif baru. Apa yang membuat hubungan pemasaran begitu meluas adalah bahwa hal itu telah terbukti dapat diterapkan untuk semua sektor seperti sektor pemasaran, barang konsumsi, jasa dan pengaturan bisnis ke bisnis.
Pandangan orang Eropa pada hubungan pemasaran
          Hubungan pemasaran juga memiliki tradisi lama dalam bidang pemasaran di akademik eropa. Baker (1994) megamati bahwa sama seperti hubungan pemasaran mulai menyita pikiran teori di AS, pekerjaan telah berlangsung selama lebih dari dua puluh tahun di Eropa. Pernyataan ini bukan untuk mempamerkan, tetapi untuk menunjukkan bahwa anteseden hubungan pemasaran dapat ditelusurin kembali di tahun 1950-an dan 1960-an di pekerjaan “Copenhagen School”(Gronroos, 1994).


Sumber :
http://www.emeraldinsight.com/doi/full/10.1108/03090560710718102

_____________________________________________________________

Pengembangan etika bisnis dari pekerjaan orang dewasa: sebuah studi di Vietnam
Lam D. Nguyen,
Bahaudin G. Mujtaba,
Frank J. Cavico.

          Setiap hari orang membuat keputusan. Mereka sering menghadapi masalah etika, etika adalah bagian dari kehidupan manusia. Dengan demikian, bersikap etis adalah penting, tidak hanya untuk individu tetapi juga untuk organisasi yang ia miliki dan diatas semua untuk masyarakat (Conroy dan Emerson, 2004). Perilaku etis dari bisnis dan perusahaan karyawan telah menjadi fokus dari kelompok pemangku kepentingan yang berbeda termasuk bisnis komunikasi dan sosial (Burns, 2012). Dalam lingkungan bisnis, manajer dan karyawan sama di semua tingkatan sering berurusan dengan isu-isu etis yang berhubungan dengan pekerjaan, dank arena itu, perilaku etis yang diharapkan dari setiap orang di tempat kerja modern. Ada banyak peneliti yang telah mempelajari etika dan perilaku etis manajer dan penjabat senior dari perusahaan besar (Clark, 2008). Para peneliti tahu bahwa keserakahan mempengaruhi orang untuk berperilaku tidak etis, selanjutnya, factor juga bisa menjadi kekurangan seseorang dari pendidikan, usia muda atau kurangnya pengalaman manajemen yang mengarah mereka untuk membuat etika penyimpangan dalam penilaian.

Vietnam Saat ini
          Vietnam adalah salah sari dari sepuluh anggota perhimpunan bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Vietnam memiliki populasi sekitar 93,4 juta orang. Dimana lebih dari dua pertiga berada di kisaran usia 15-64 tahun. Ada 58 provinsi dan 5 kotamadya (kota besar) termasuk kota Ho Chi Minh dan Can Tho di selatan, Hanoi (ibukota), Hai Phong di utara dan D Nang di central. Vietnam adalah bahasa resin, sedangkan bahasa inggris adalah bahasa kedua.
Etika dan Korupsi di Vietnam

          Konsep etika bisnis yang relatif baru di Vietnam meskipun prinsip-prinsip moral, konsep dan pelajaran diperkenalkan awal dalam sistem pendidikan. Untuk semua orang Vietnam, menjadi beretika berarti menjadi complaint danmengikutin instruksi dari otorias hirarkis lebih tinggi. Sejak mengadopsi kebijakan “Doi Moi”, negara itu membuka pasarnya terbuka dan menjadi lebih usaha saat ini berbagai masalah seperti hak konsumen, produk dan kualitas pelayanan dan keamanan, ha k atas kekayaan intelektual.

Sumber:
http://www.emeraldinsight.com/doi/full/10.1108/JABS-05-2013-0027

Sunday, November 13, 2016

KOPERASI

Pengertian Koperasi

     Koperasi secara harfiah berasal dari bahasa Inggris “Coperation” yang terdiri dari dua suku kata, yaitu ”co” yang berarti bersama dan “operation” yang artinya bekerja. Jadi secara keseluruhan koperasi berarti bekerja sama. Menurut pengertian umum, koperasi adalah suatu kumpulan orang-orang yang bekerja sama demi kesejahteraan bersama. Pengertian koperasi menurut Undang-Undang No. 25 tahun 1992 Pasal 1 tentang perkoperasian, koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan berlandaskan kegiatan pada prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas azas kekeluargaan.

Ukuran Koperasi

     Berdasarkan omzetnya ukuran koperasi diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yaitu koperasi besar, koperasi menengah, dan koperasi kecil.

1. Koperasi besar mempunyai omzet per tahun diatas Rp 1 Milyar.
2. Koperasi menengah mempunyai omzet per tahun antara Rp 500 juta - Rp 1 M.
3. Koperasi kecil mempunyai omzet per tahun kurang dari Rp 500 juta.

Jenis Koperasi

     Menurut Undang-Undang No. 25 tahun 1992 pasal 16 jenis koperasi didasarkan pada kesamaan kegiatan dan kepentingan ekonomi anggotanya. Jenis koperasi terdiri dari lima jenis, yaitu:

1. Koperasi simpan pinjam
2. Koperasi konsumen
3. Koperasi produsen
4. Koperasi pemasaran
5. Koperasi jasa

Fungsi Koperasi Di Indonesia

Seperti juga landasan koperasi Indonesia, maka fungsi koperasi Indonesia tidak dapat dipisahkan dari situasi dan kondisi, dari latar belakang budaya serta latar belakang sejarah dan cita-cita perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, yaitu :

1. Koperasi harus berfungsi sebagai alat perjuangan rakyat Indonesia di bidang ekonomi untuk meningkatkan tarap hidup dan kedudukan ekonominya serta melaksanakan pasal 33 UUD 1945 dan penjelasannya;

2. Koperasi harus berfungsi sebagai alat perjuangan rakyat Indonesia untuk mewujudkan demokrasi ekonomi sebagai landasan masyarakat yang berkeadilan sosial;

3. Koperasi harus berfungsi sebagai gerakan masyarakat untuk menyukseskan pembangunan nasional Indonesia serta menjamin terwujudnya hari esok yang sejahtera;

4. Koperasi harus berfungsi sebagai sokoguru ekonomi nasional Indonesia yang menjamin kemajuan serta kemakmuran bersama rakyat Indonesia;

5. Koperasi harus berfungsi sebagai alat pemersatu rakyat Indonesia yang miskin dan lemah ekonominya untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UU’45.

Sistem Ekonomi Koperasi

     Berikut beberapa sistem ekonomi koperasi yang pernah di anut oleh Indonesia :

1. 1950-1959 : Sistem ekonomi liberal (masa demokrasi), sistem ekonomi dimana ekonomi diatur oleh kekuatan pasar (permintaan dan penawaran).

2. 1959-1966 : Sistem ekonomu etatisme (masa demokrasi terpimpin), sistem ekonomi dimana ekonomi diatur negara.

3. 1966-1998 : Sistem ekonomi pancasila (demokrasi ekonomi), suatu sistem perekonomian nasional yang merupakan perwujudan dari falsafah Pancasila dan UUD 1945 yang berasaskan kekeluargaan dan kegotongroyongan dari, oleh, dan untuk rakyat di bawah pimpinan dan pengawasan pemerintah.

4. 1998-sekarang : sistem ekonomi pancasila (demokrasi ekonomi) yang dalam prakteknya cenderung liberal.
Sistem ekonomi koperasi akan mampu memberikan pengaruh positif khususnya pada penyelesaian masalah masalah perekonomian, jika permasalahan dalam perekonomian dapat terselesaikan maka kehidupan ekonomi negara ini akan berjalan kondusif dan rakyat pun memiliki kehidupan yang sejahtera.

     Faktor penghambat sistem ekonomi koperasi yaitu:

1. Faktor Internal, meliputi tingkat pendidikan pengurus dan anggota umumnya masih rendah, keterampilan dan keahlian anggota masih terbatas, banyak anggota koperasi yang tidak mau bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama.

2. Faktor Eksternal, meliputi kurangnya dukungan dari pemerintah dalam hal pelayanan, fasilitas dan penyuluhan, banyak badan usaha lain yang bergerak pada bidang usaha yang sama dengan koperasi, masih banyak masyarakat yang tidak mempercayai koperasi, kebijakan dan program kerja koperasi masih cenderung timbul dari prakarsa pemerintah, koperasi sulit mendapatkan kredit dari bank, karena persyaratan yang sulit terpenuhi, kurangnya petugas pembina koperasi, baik jumlahnya maupun mutunya, koperasi juga terhambat karena kurang kerjasama di bidang ekonomi.

     Sedangkan, faktor penyebab kegagalan sistem perekonomian Indonesia yaitu:

1. Program tersebut disusun oleh tokoh yang relatif bukan bidangnya, namun oleh tokoh politik, sehingga keputusan yang dibuat cenderung menitikberatkan pada masalah politik bukan masalah ekonomi.

2. Akibat lanjutan dari kegagalan diatas dana negara yang seharusnya dialokasikan untuk kepentingan kegiatan ekonomi justru dialokasikan untuk kepentingan politik dan perang.

3. Adanya kecenderungan terpengaruh untuk menggunakan sistem perekonomian yang tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia.

Manajemen

     G. Terry mendefinisikan bahwa “Manajemen adalah suatu proses tertentu yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan penggunaan suatu ilmu dan seni yang bersama-sama menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan”.
     Menurut Amirullah (2001) manajemen pada umumnya dibagi menjadi beberapa fungsi, yaitu merencanakan, mengkoordinasikan, mengarahkan dan mengendalikan kegiatan dalam rangka pencapaian tujuan yang diinginkan secara efektif dan efisien.
     A.H. Gophar mengatakan bahwa manajemen koperasi pada dasarnya dapat ditelaah dan tiga sudut pandang, yaitu organisasi, proses, dan gaya (Hendar dan Kusnadi; 1999). Badan usaha koperasi di Indonesia memiliki manajemen koperasi yang dirunut berdasarkan perangkat organisasi koperasi, yaitu rapat anggota, pengurus, pengawas, dan pengelola (Sitio dan Tamba; 2001).
     Watak manajemen koperasi ialah gaya manajemen partisipatif. Pola umum manajemen koperasi yang partisipatif tersebut menggambarkan adanya interaksi antar unsur manajemen koperasi. Terdapat pembagian tugas (job description) pada masing-masing unsur. Demikian pula setiap unsur manajemen mempunyai lingkup keputusan (decision area) yang berbeda, kendatipun masih ada lingkup keputusan yang dilakukan secara bersama (shared decision areas).

Organisasi

     Organisasi koperasi adalah suatu cara atau sistem hubungan kerja sama antara orang-orang yang mempunyai kepentingan yang sama antara orang-orang yang mempunyai kepentingan yang sama dan bermaksud mencapai tujuan yang ditetapkan bersama-sama dalam suatu wadah koperasi. Menurut Hanel, bentuk organisasi koperasi adalah suatu sistem sosial ekonomi atau sosial teknik yang terbuka dan berorientasi pada tujuan.

     Sebagai organisasi koperasi yang bergerak dibidang usaha guna memuaskan kepentingan anggotanya, koperasi mempunyai 5 persyaratan yang harus dipenuhi koperasi, meliputi:
1. Adanya orang/subyek hukum pendukung hak dan kewajiban.
2. Adanya pengelola, pengurus, direksi
3. Adanya harta kekayaan yang terpisah/equity (permodalan)
4. Adanya kegiatan
5. Adanya aturan main berdasarkan prinsip koperasi

Pemasaran

     Menurut Philip Kotler, manajemen pemasaran merupakan analisis, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan program-program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan mempertahankan pertukaran yang menyenangkan dengan pasar, agar tujuan organisasi tercapai.
     Fungsi pemasaran yang dilakukan oleh koperasi mencakup fungsi pembelian, penjualan, dan promosi. Bila pelaksanaan terhadap tiga fungsi tersebut sudah tepat maka akan mempunyai dampak yang kuat terhadap manfaat dan kepuasan yang dihasilkan oleh koperasi bagi anggotanya, termasuk non anggota.
     Kualitas koperasi banyak ditentukan oleh manfaat yang dapat diperoleh bagi anggotanya maupun pemiliknya. Manfaat yang langsung yang diterima anggota dapat berwujud atau tercermin dari produksi, harga, pelayanan, informasi pasar, promosi, dll.
     Kegiatan pemasaran selalu diusahakan agar dapat memenuhi preferensi konsumen. Untuk mencapai efisiensi pemasaran harus memperhatikan dua hal pokok, yaitu memantapkan loyalitas anggota dalam hal jual beli barang yang dibutuhkan oleh anggota melalui koperasi dan memantapkan partisipasi anggota dalam akumulasi modal, penghasilan, dan inisiatif perbaikan produk, pelayanan, harga dan biaya.

Tata Cara Mendirikan Koperasi

     Dasar hukum mendirikan koperasi adalah Undang-undang Nomor 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian, PP Nomor 4 tahun 1994 tentang persyaratan dan tata cara pengesahan akta pendirian dan perubahan anggaran dasar koperasi, kemudian Peraturan Menteri Nomor 01 tahun 2006 yaitu tentang petunjuk pelaksanaan pembentukan pengesahan akta pendirian dan perubahan anggaran dasar koperasi. Koperasi merupakan usaha yang dibentuk oleh sekelompok orang atau anggota masyarakat yang mempunyai kegiatan dan kepentingan ekonomi yang sama. Dalam agenda pendirian koperasi sebaiknya didahului dengan penyuluhan kepada seluruh calon anggota sehingga memiliki persepsi yang sama.
     Mendirikan sebuah koperasi jumlah minimal anggotanya adalah 20 orang. Dalam proses pendiriannya awali dengan rapat pembentukan koperasi yang harus dihadiri oleh pejabat dinas atau instansi yang membidangi permasalahan koperasi di wilayah setempat. Ada beberapa poin penting yang wajib dibicarakan dalam rapat pembentukan koperasi tersebut antara lain: kesepakatan nama dan tempat kedudukan koperasi, maksud dan tujuan, jenis koperasi dan bidang usaha yang dilakoni, keanggotaan, rapat anggota, pengurus, pengawas dan pengelola, membahas tentang permodalan, jangka waktu serta sisa hasil usaha. Hasil dari keputusan rapat tersebut akan digunakan sebagai dasar pengajuan akta pendirian ke notaris.
     Melalui notaris atau kuasa pendiri, berkas ijin pendirian koperasi simpan pinjam tersebut diajukan ke pejabat yang berwenang untuk dievaluasi. Beberapa bukti tertulis yang wajib dilampirkan antara lain berupa salinan akta pendirian bermaterai, akta pendirian yang telah ditandatangani notaris, surat bukti tersedianya modal, rencana kegiatan usaha kurang kurangnya untuk 3 tahun ke depan, dan RAPB.






DAFTAR PUSTAKA

- PALUPI, ASTRI KEN dan ANIS CHARIRI, S.E., M.Com, Ph.D., Akt. .PENGARUH UKURAN KOPERASI DAN JENIS KOPERASI TERHADAP KUALITAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN (Studi Kasus pada Koperasi di Purworejo ).UNIVERSITAS UNDIP.
- MUIS, ABDUL. MENGENAL KOPERASI DAN PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA.
- LISTYANINGRUM, DORI NOVITA. PERKEMBANGAN KOPERASI DI DUNIA DAN DI INDONESIA.